Powered By Blogger

Rabu, 19 Mei 2010

Nyanyian Dedaun

dawai gitar menyusupkan getarnya di antara
angin malam berhujan
mengiringi nyanyian dedaun
sesekali menari
sesekali berbisik
tentang kebekuan

selalu saja begitu
akhirnya lentera tiba waktu untuk padam
mempersilakan gelap yang terkuap-kuap membentangkan kelambu
tapi dawai gitar terus menyusupkan getarnya
sebab angin tak pernah lelah
tak pernah menyerah
terus menderu
berharapan

dan dawai gitar akan tetap bergetar
setia mengiringi nyanyian dedaun
hingga ke ujung nafas nada

Rabu, 28 April 2010

Kisah Sebuah Kota

:Mengenang gejolak reformasi



Kota itu tak pernah lagi tidur setelah pembakaran dan pembunuhan bersaing dengan lagu-lagu pop merebut puncak tangga hits. Berita kerusuhan berdarah -- dengan sedikit bumbu pedas -- menjadi barang dagangan laris yang mendongkrak omzet penjualan koran. Di situ pula kota terpampang di halaman depan dengan wajah resah dan kurang darah.

Ini masa reformasi. Tapi bukan karena itu hingga kota bermuram durja. Tak lagi mampu menuliskan daftar panjang nama korban mati membusuk. Bukan karena itu hingga kota berduka. Barisan warga bergerak mengungsi dengan pikulan beban ketakutan penuh teror dan ancaman tanpa kepastian perlindungan keamanan. Bukan karena itu. Tapi lantaran tak pernah terwujud reformasi itu. Hanya tambal sulam seraya mencari celah.

Reformasi. Mungkin cuma tetap seteriak slogan. Sebatas mimpi. Sementara kota tak pernah lagi tidur.

Senin, 19 April 2010

Spanduk Demonstrasi

akhirnya kita hanyalah
teriakan-teriakan serak
mikrofon parau
ban-ban terbakar dan jalan yang macet

mereka tetap korupsi
nyaman dalam azas
praduga tak bersalah
di dalam ruang kerja yang sejuk
menyusun program pembangunan
rumah mewah mereka
pengembangan tanah pertanian pribadi
dan peningkatan kesejahteraan perut mereka

kita hanyalah spanduk-spanduk demonstrasi
dalam negara yang merasa demokratis

Debu

debu adalah sajak yang
ditulis angin
bacalah sebait yang
menempel di kulitmu

Aroma Musim Hujan

kuhirup aroma musim hujan
di malam yang basah
dan kembali datang kenangan
hangatnya secangkir kopi yang kau seduh
di senja teduh

angin dingin mempermainkan sunyi
dan rindu rupanya tak pernah berubah sifat
senantiasa seperti kanak-kanak
merengek minta dibelikan coklat
tapi tak ada toko yang buka selarut ini
tinggallah diskotek dan apotek
menyediakan pil penenang
sementara diriku sendiri
berharap sangat
terdampar di atas komedi putar

mungkin ada sekaleng racun serangga
untuk membasmi kanak-kanak
yang terus merengek minta coklat
di malam mustahil ini

tapi aroma musim hujan selalu menghidupkan
kenangan pada hangatnya secangkir kopi
di senja yang jauh

akh, aku benci benar pada rasa rindu
yang tak mati-mati

Selasa, 23 Februari 2010

Menjeda Waktu

tunggu sebentar
aku sedang keluar
dari arloji
dari kalender
melintasi jalan
tanpa ramburambu
tanpa lampu lalulintas

tunggu sebentar
aku sedang melangkah
tanpa jejak
tanpa usia

Rabu, 03 Desember 2008

BUNGA KEBENARAN

seperti melati yang indah
aku menanam juga bunga kebenaran
untuk menghibur bumi yang muram

tanah telah penuh kembang plastik
disunting dari teks-teks pidato,
pertemuan, dan rapat-rapat organisasi
mikrofon belepotan lipstik tebal kepalsuan

dan seperti melati
aku ingin kebenaran
tumbuh bermekaran dengan indah